PINSAR Sultra Minta Penyaluran Jagung SPHP Disesuaikan dengan Ketersediaan Stok Bulog

Ekonomi dan Bisnis 09 Aug 2026 22:02 3 min read 140 views By La Ode Umar Zaid
PINSAR Sultra Minta Penyaluran Jagung SPHP Disesuaikan dengan Ketersediaan Stok Bulog
PINSAR Sultra mendorong penyaluran Jagung SPHP disesuaikan dengan ketersediaan stok Bulog untuk menjaga kualitas jagung dan memenuhi kebutuhan peternak.

KENDARI, Celebesnesia – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Wilayah Sulawesi Tenggara meminta agar pelaksanaan penyaluran Jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dapat diselaraskan dengan kondisi dan ketersediaan stok jagung di gudang Perum Bulog. Sinkronisasi tersebut dinilai penting untuk mencegah jagung tersimpan terlalu lama yang berpotensi berdampak terhadap kualitas fisiknya.

Ketua PINSAR Wilayah Sulawesi Tenggara, Harry S. Adi Wibowo, menyampaikan bahwa pihaknya memperoleh sejumlah laporan dan masukan dari peternak mengenai kondisi fisik jagung yang diterima di lapangan.

Menurut Harry, kualitas jagung perlu menjadi perhatian dalam proses penyaluran karena bahan baku tersebut merupakan komponen utama dalam pakan unggas. Penyimpanan dalam waktu yang cukup lama, terlebih apabila tidak segera diserap, berpotensi menyebabkan perubahan pada kondisi fisik jagung.

“Kami mendapatkan masukan dari sejumlah peternak mengenai kondisi fisik jagung yang diterima, di antaranya ditemukan cukup banyak butiran pecah dan serbuk halus. Bagi peternak, kualitas bahan baku pakan tentu menjadi hal yang sangat penting karena akan digunakan dalam proses produksi pakan,” ujar Harry.

Ia menambahkan, masukan mengenai kondisi jagung tersebut tidak hanya datang dari peternak di wilayah Konawe, tetapi juga diterima dari peternak di Kabupaten Muna.

Hal ini, menurutnya, menjadi salah satu indikator bahwa pengelolaan stok dan pola penyaluran perlu terus dievaluasi agar kualitas jagung dapat dipertahankan sejak berada di gudang hingga sampai kepada peternak.

Di sisi lain, PINSAR Sultra memberikan apresiasi terhadap langkah Perum Bulog yang telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga kondisi jagung, termasuk melalui proses penyortiran, repacking, dan pembersihan sebelum dilakukan penyaluran.

“Kami menghargai upaya Bulog melakukan penyortiran, repacking, dan pembersihan terhadap stok yang ada. Ini merupakan langkah positif untuk menjaga mutu. Namun ke depan, menurut kami akan lebih baik apabila pola penyaluran juga dapat disesuaikan dengan kondisi stok sehingga jagung tidak terlalu lama berada dalam penyimpanan,” jelasnya.

Harry menegaskan, masukan yang disampaikan PINSAR bukan dimaksudkan untuk menyudutkan ataupun menyalahkan pihak tertentu. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya memberikan gambaran kondisi lapangan sekaligus menjadi bahan evaluasi bersama dalam pelaksanaan program SPHP.

“Kami tidak ingin persoalan ini dilihat sebagai upaya menyalahkan pihak tertentu. Justru kami ingin memberikan masukan dari kondisi yang kami temukan di lapangan agar pelaksanaan program ke depan bisa semakin baik dan memberikan manfaat bagi peternak,” tegas Harry.

PINSAR Sultra berharap penyaluran Jagung SPHP ke depan dapat berjalan beriringan dengan manajemen stok yang tersedia di Bulog. Dengan pola tersebut, jagung yang telah tersedia dapat lebih cepat terserap, risiko penurunan mutu akibat penyimpanan berkepanjangan dapat diminimalkan, dan peternak mendapatkan bahan baku pakan yang sesuai dengan kebutuhan.

Sebagai organisasi yang menjadi bagian dari mitra pemerintah dan mewakili kepentingan pelaku usaha perunggasan, PINSAR Sultra menyatakan akan terus menyampaikan aspirasi dan informasi berdasarkan kondisi yang ditemui peternak di lapangan.

PINSAR juga mendorong penguatan koordinasi antara Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog, pemerintah daerah, dan PINSAR agar pelaksanaan program SPHP dapat semakin efektif, tepat sasaran, serta mampu menjaga keseimbangan antara ketersediaan stok, kualitas jagung, dan kebutuhan peternak.

Recent Articles