Explore Tenggera 2026 Sukses, Mengenal Alam dan Cerita di Balik Karst Tenggera di Oheo

Pariwisata 17 Aug 2026 23:09 4 min read 420 views By La Ode Umar Zaid
Explore Tenggera 2026 Sukses, Mengenal Alam dan Cerita di Balik Karst Tenggera di Oheo
Explore Tenggera 2026 membawa peserta mengenal alam, budaya Tolaki, dan pentingnya menjaga kawasan Karst Tenggera melalui perjalanan dan diskusi di Desa Bendewuta, Oheo.

KONAWE UTARA, Celebesnesia — Dua hari berada di kawasan Karst Tenggera, Desa Bendewuta, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara, membawa peserta Explore Tenggera 2026 pada pengalaman yang lebih dari sekadar perjalanan menikmati alam.

Di kawasan yang berada dalam bentang alam Matarombeo itu, peserta diajak melihat langsung potensi wisata, mengenal sejarah dan kebudayaan masyarakat Tolaki, sekaligus berbicara tentang bagaimana kawasan karst dapat dijaga dan dikembangkan tanpa kehilangan nilai alamnya.

Kegiatan yang berlangsung pada 16–17 Agustus 2026 tersebut merupakan agenda perdana Tenggera Heritage Guardians (THG). Pesertanya datang dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, pecinta alam, lembaga, organisasi kemasyarakatan, pemuda, hingga masyarakat setempat.

Perjalanan dimulai pada Minggu, 16 Agustus. Peserta berkumpul di Dermaga Meohai, Desa Bendewuta, sebelum bergerak menuju kawasan Tenggera dan mendirikan camp.

Setelah berada di lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan sejumlah spot wisata. Dicky Yanto menjadi pemateri yang memperkenalkan berbagai lokasi di kawasan Tenggera. Setiap spot memiliki karakter dan keunikan masing-masing, termasuk cerita yang membuat peserta tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga mengenal kawasan yang mereka datangi.

Malam harinya, peserta mendapatkan materi mengenai sejarah dan kebudayaan Tenggera yang disampaikan Asriki.

Ia menjelaskan kebudayaan Tolaki secara lebih luas, mulai dari kultur masyarakat, penyebaran bahasa Tolaki dan rumpun-rumpunnya, pakaian adat, hingga adat istiadat.

Bagi peserta, pembahasan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami Tenggera. Sebab kawasan ini tidak hanya berbicara tentang bentang alam. Ada masyarakat, kebudayaan, dan sejarah yang ikut membentuk cerita di balik kawasan tersebut.

Pembicaraan kemudian mengarah pada satu hal yang menjadi perhatian utama dalam pengembangan Tenggera, yakni bagaimana potensi alam yang ada dapat tetap terjaga di tengah kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan penghidupan.

Hal itu disampaikan Sudarsono, S.IP., Kepala Bidang Pengembangan Promosi Wisata Dinas Pariwisata Konawe Utara, dalam materi mengenai kampanye perlindungan kawasan karst.

Menurut Sudarsono, salah satu cara untuk menjaga kawasan alam adalah memberikan nilai melalui pengembangan pariwisata. Dengan menjadikan kawasan sebagai destinasi yang dikelola secara baik, masyarakat di sekitarnya dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus bergantung pada aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Ia juga mendorong masyarakat yang mencari penghidupan di sekitar kawasan Karst Tenggera agar mengembangkan kegiatan yang lebih ramah lingkungan dan tetap memiliki nilai ekonomi.

Dalam hal ini, masyarakat tidak cukup hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat. Mereka perlu dilibatkan dalam pengelolaan kawasan bersama pemerintah desa, pemerintah daerah, dan kelompok pemuda.

Sudarsono juga menekankan pentingnya dukungan terhadap kelompok-kelompok pemuda seperti THG yang ikut mengambil peran dalam memperkenalkan dan menjaga kawasan Tenggera.

Dalam wawancara usai kegiatan, ia memastikan Dinas Pariwisata Konawe Utara akan terus mendukung upaya pengembangan Desa Wisata Bendewuta dan Karst Tenggera.

“Ini merupakan bagian dari sebuah langkah dalam melindungi dan merawat alam. Maka segala upaya dalam peningkatan Desa Wisata Bendewuta dan Karst Tenggera, insyaallah Dispar akan terus mendukung,” ujar Sudarsono.

Bagi Sudarsono, kawasan karst juga memiliki posisi penting sebagai bentang alam yang perlu dijaga. Karena itu, pengembangan wisata harus berjalan dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan.

Pesan mengenai menjaga alam kemudian mendapat suasana berbeda pada pagi hari berikutnya.

Pada Senin, 17 Agustus 2026, sebelum melanjutkan eksplorasi, para peserta terlebih dahulu mengikuti upacara penaikan bendera Merah Putih di salah satu spot destinasi Tenggera.

Upacara berlangsung di tengah kawasan alam Tenggera. Setelah itu, peserta kembali melanjutkan perjalanan untuk mengeksplorasi sejumlah spot wisata.

Bagi sebagian peserta, pengibaran bendera di kawasan karst tersebut menjadi pengalaman tersendiri. Di tengah suasana alam yang jauh dari perkotaan, peringatan kemerdekaan dilakukan dengan cara yang sederhana, sekaligus menjadi pengingat bahwa kekayaan alam juga merupakan bagian dari warisan yang harus dijaga.

Rangkaian kegiatan kemudian berlangsung hingga selesai dan peserta kembali menuju Dermaga Meohai.

Bagi Tenggera Heritage Guardians, kegiatan ini merupakan langkah awal. Mereka menyadari masih banyak yang harus dibenahi untuk membuat kawasan Tenggera semakin dikenal sekaligus semakin terawat.

Peningkatan sarana dan prasarana menjadi salah satu pekerjaan yang masih perlu dilakukan. Karena itu, panitia membuka ruang bagi saran dan masukan dari peserta maupun berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap kawasan tersebut.

THG juga menyatakan komitmennya untuk terus bekerja bersama pemuda, masyarakat, pemerintah desa, dan pihak terkait dalam pengembangan destinasi.

Harapannya sederhana: Tenggera semakin dikenal, tetapi tetap menjadi Tenggera yang sama—dengan alamnya, cerita masyarakatnya, dan kebudayaan yang hidup di dalamnya.

Sebab semakin banyak orang mengenal sebuah tempat, semakin besar pula peluang untuk menyadari mengapa tempat itu perlu dijaga.

Dan dari Karst Tenggera di Oheo, yang berada dalam bentang alam Matarombeo, langkah itu kini mulai diperkenalkan melalui perjalanan, cerita, dan orang-orang yang memilih datang untuk mengenal sekaligus merawatnya

Recent Articles